NUSAIDAMAN

Selamat Datang, Teman... Terima Kasih sudah berkunjung...

Minggu, 16 Agustus 2009

MY REAL INSPIRATION

Tak Seperti biasa, kali ini aku tak tau harus memulai dari mana. Begitu banyak yg ingin kutuliskan tentangmu. Segitu banyaknya, hingga aku pun bingung bagian mana yg harus kutulis. Seluruh hidupmu adalah inspirasi buatku.

Sikapmu, tuturmu, adalah sebuah gambaran nyata betapa kau telah mendedikasikan hidupmu untuk kebahagiaan anak2mu. Mungkin, sesekali untuk itu kau harus mengorbankan kebahagiaanmu sendiri. Tapi adakah itu menjadi sebuah masalah bagimu? Kurasa tidak. Karena ketika orang2 diluar sana mulai membicarakan tentang makna keikhlasan, kau telah lebih dulu melakukannya. Iya. Tak perlu ada yg mengajarimu tentang makna pengorbanan, tentang arti keikhlasan, karena semua yg kau lakukan telah memberikan jawaban atas semuanya.

Sekali waktu pernah aku merasa jengah dengan perhatian2 kecil yg kau berikan. Atas nama kekhawatiran sebagai seorang Ibu. ”Sy bukan anak kecil lagi, Ma”. Ingin rasanya aku mengatakan itu padamu, saat kutemukan kau begitu mengkhawatirkanku. Kuanggap kau terlalu berlebihan. Syukurlah, Tuhan masih menjaga lisanku dari berucap hal itu. Semoga selamanya Dia mampu mencukupkan kemampuanku dari menjaga hal2 yg baik untuk kukatakan dan kulakukan padamu. Bukankah Ridhamu adalah Ridha-Nya juga?

Di ruang waktu lain, kau menemukan kabut di mataku. ”Ada apa?” Kau bertanya, yang kusambut dengan bersikap sewajarnya, berpura2 menjadi sosok yg (sok) tegar di hadapanmu. Nyengir, seperti kebiasaanku. Dari pandanganmu, kutau dengan jelas bahwa kau masih menyimpan pertanyaan itu. Ya. Hanya dengan pandanganmu itu. Memberiku jawaban bahwa insting seorang Ibu itu setajam pedang.

Namun lihatlah, ternyata saya tetap membutuhkanmu. Sejauh apapun ku melangkah, setegar apapun aku berusaha, seberapa angkuh aku berusaha mengelak dari perhatianmu dan menganggap aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri. Inilah aku, dengan segala keangkuhan yg kuciptakan sendiri. Ujung2nya, aku tetap tak mampu memikul semuanya sendiri.
Dan ketika air mata itu kau temukan juga di pelupuk mataku, lagi2 kau hanya diam dan memandang tajam ke arahku. Seolah2 ingin menegaskan kepadaku bahwa sampai kapanpun, aku tetaplah putri kecilmu yg selalu merengek tidak jelas. ”Tidak usah berpikir menyembunyikan sesuatu dari Mama, pasti nanti Mama akan tahu juga” Itulah mungkin bahasa yg ingin kau sampaikan, ketika satu waktu lagi2 aku hadir dengan masalahku.

Harus pula kukatakan bahwa kau bukan orang yg sempurna. Kupikir selama ini kau mampu mengatasi segala masalah di keluarga ini. Dari kecekatanmu membagi waktu antara keluarga, pekerjaan, dan organisasi yg kau geluti. Semakin aku menganggapmu seorang wonderwoman. Hebad.
Tapi ternyata tidak. Kau tetaplah seorang perempuan yg mempunyai sisi kelemahan dan kerapuhan. Dan itulah yg kutangkap ketika pasangan jiwamu meninggalkanmu untuk selamanya. Dia yg kami panggil dengan sebutan ”Bapak” telah menduluimu menemui-Nya.

Sekian lama aku mengenalmu, kau sangat jarang menitikkan air mata. Sekali lagi, ini jugalah yg semakin menguatkan hipotesisku bahwa kau betul2 seorang yang tangguh. Bahkan mungkin lebih sering Ayah menangis daripada kau. Dibalik kekuatan perasaanmu, kau tetap lebih mengutamakan logika dalam bertindak.
Tapi tidak untuk kali ini. Kau menangis. Sesenggukan. Dengan suara yg lebih keras dari biasanya. Kau terlihat begitu lemah. Seolah bukan kau yg selama ini kukenal. Sungguh, aku tersentak melihatnya. Benarkah itu engkau?

Bahkan hingga berhari2 setelahnya. Kau tak jua menemukan ”hidup”mu kembali. Seolah separuh jiwamu turut melayang bersama kepergian suamimu. Ah... egoisnya kami anak2mu, yg menganggap kamilah yg patut bersedih karena kehilangan Ayah, tanpa menyadari bahwa kau jauh lebih kehilangan dari kami semua. Kami mengenalnya tak lebih lama dari usia kami masing2. Jika diandaikan bahwa seorang anak mulai mampu mengingat setiap yg terjadi dihidupnya di usia 5 tahun, maka paling lama aku memiliki kenangan bersama Ayah selama 19 tahun. Sementara kau? Lebih dari separuh usiamu kini kau habiskan bersamanya. Semestinya kau lebih berhak untuk bersedih. Tapi kami tetap dengan egoisnya menikmati kesedihan kami sendiri. Ampuni kami....

62 tahun usiamu kini. Sudah mulai senja. Entah apa yg ada dipikiranmu saat ini. Apakah kau bahagia dengan hidupmu? Begitu ingin aku menyelami sisi hatimu yg terdalam. Apa yang kau inginkan? Biarkan aku mengetahuinya. Dan mempersembahkan sebaik-baik bakti, pengganti cintamu. Walaupun tak secuil itu mampu menggantinya.

Tapi aku tak pernah betul2 menanyakan itu padamu. Sekali waktu pernah kugunakan kiasan untuk mencaritau jawabnya darimu, tapi lagi2 kau hanya menjawabnya dengan pandanganmu yg khas. Membuatku mengurungkan niat untuk bertanya lebih jauh. Ya. Diam memang terkadang menjadi bahasa yg mampu bercerita banyak. Tidak perlu banyak kata untuk kau menunjukkan cintamu untukku. Cukup dengan apa yg kau lakukan, dengan segala yg kau korbankan untuk kami.

Saat beberapa waktu yg lalu kita bertemu, aku memandangimu saat kau tertidur pulas di sampingku. Benar2 engkau boleh dikatakan tua. Beberapa kerutan di wajahmu, uban yg mulai ramai memenuhi kepalamu telah menggambarkan itu. Kau terlihat begitu nyaman dengan tidurmu saat itu, dan aku tak ingin mengusiknya. Aku hanya menikmati saat2 mewah ketika bersamamu. Dan saat itu aku menyadari bahwa aku belum cukup sanggup untuk kehilanganmu. Aku bahkan tak berani membayangkannya.

I could stay awake, just to hear you breathin’ | Watch you smile while you are sleepin’ | while your’re far away dreamin’ | I could spend my life, in this sweet surrender | I could stay lost to this moment, forever | Every moment spent with you, is a moment I treasure

Tadi aku mengatakan tak tau harus menulis apa. Namun lihatlah, tulisan sepanjang inipun sesungguhnya belum cukup untuk menuliskan segala kehebatan yg ada padamu. Begitulah adanya kau, my real inspiration.

Ya Rabb, aku mungkin sering terlupa. Seringnya tak menyadari. Tapi Kau Yang Maha Hidup di hati-hati hambaMu, maka hidupkan hati-hati orangtuaku dengan cahayaMu.

Ya Rabb, aku mungkin tak bisa persembahkan bakti sempurna. Tapi Kau yang Maha Segalanya, maka lengkapi ketidakberdayaanku dengan rahmatMu untuk Kau titipkan di hari-harinya

Ya Rabb, aku mohon dengan sangat. Saat nanti aku benar-benar tak memiliki pembenaran alasan selain kematian yaitu tidak bisa membersamai mereka dalam masa-masa ringkih mereka maka jadikanlah pada hati-hati mereka, Dirimu sebagai sebaik-baik tempat berteduh bagi mereka. Selamanya...

Selamat Ulang Tahun, Mama tersayang. Luv u more and more....



=Surabaya, 16 Agustus 2009=

Jumat, 14 Agustus 2009

LUPA MENIKAH ?

Sejak beberapa waktu yg lalu senior saia semasa di kampus tinggal bersama saya di kos2an. Beliau seorang Dosen, dan mendapat tugas belajar S2 di ITS. Sementara dia mencari kos2an sekitaran kampus, untuk sementara dy numpang nginap di kos2anku.

Di suatu malam, kami ngobrol2 tak jelas. Yeahh... 2 orang perempuan lajang yg sudah cukup umur untuk menikah ngemeng2 di tengah malam, you can guess what the topic, xixixi....

Sampe beliau mulai masup di bahasan sensi itu. Dia punya cerita gini...

Senior : La, tau tidak, waktu sy pamit di kampus mw berangkat kesini, teman2 dosenku bilang begini ”Bu Kartika, ingat pulang ke Makasar nah. Jangan tinggal terus di Surabaya. Jangan lupa juga menikah”

iLLa : hahahhay... Trus kita bilang apa? (kita dalam bhs makasar itu berarti kamu dlm konteks yg sopan, biasanya ditujukan ke orang yg lebih tua)

Senior : Saya bilang.... ”Saya sih tidak pernah lupa menikah. Tapi laki2 di luaran sana itu yg lupa menikahi saya!”

iLLa : wakakakakak.... narjis!

Pertanyaan saya, apa memang laki-laki itu punya kecenderungan untuk lupa menikah???


Postingan ga jelas, di tengah hari yg jelas jelas sangat panas....


Minggu, 09 Agustus 2009

MAKNA SEBUAH TITIPAN : A TRIBUTE TO WS RENDRA

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa :

sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Allah
bahwa rumahku hanya titipan-Nya,
bahwa hartaku hanya titipan-Nya,
bahwa putraku hanya titipan-Nya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan
bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti
matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

by WS. RENDRA

==============================================

A tribute to Mas Willy...
Bahkan ketika orang2 lebih ramai membicarakan aksi penangkapan pelaku teroris itu, rasa kehilangan karena kepergianmu tetap lebih mengusik. Selamat Jalan Sang Merak, kini kau telah terbang selamanya.....